Suatu ketika Nashrudin sedang berjalan. Tiba-tiba kakinya terantuk sebuah benda. Dipungutnya benda itu. Ternyata sebuah cermin kecil yang tertutup debu tebal. “Lumayan, akan kugantung di dinding dekat tempat tidur”, gumamnya lirih. Dengan ujung baju, diusapnya debu yang menyeliputi permukaan cermin. Cermin kembali berkilat. Sontak Nashrudi terkejut setengah mati. Matanya terbelalak. Ia melihat sosok mengerikan di dalam cemin. Wajah dengan kulit keriput, ditingkahi bulu-bulu kasar hitam putih tak merata, janggut yang kusut masai dan mata merah melotot. Praaang! Cermin dicampakkan. “Pantas saja engkau dibuang pemilikmu!”, hardik Nashrudin. Rupanya, Nashrudin tidak siap melihat wajahnya sendiri.
Kawan, anekdot diatas yang diambil dari kumpulan anekdot sufi ini menarik untuk direnungkan. Cermin adalah alat yang jujur. Ia memperlihatkan obyek yang ada dihadapannya apa adanya. Bahkan, bila pencahayaan demikian terangnya, cermin akan menghasilkan pantulan obyek yang lebih cemerlang dibandingkan aslinya. Itulah kehebatan cermin.
Kawan, selau bersihkan hati kita, agar cahaya mudah masuk ke dalamya. Usaplah debunya agar dapat memantulkan cahaya dengan terang. Jernihkan permukaannya agar dapat bercerita jujur kepada kita. Mungkin kita tidak dapat mencegah datangnya debu ke permukaan cermin. Tetapi janganlah lelah untuk selalu membersihkannya.
Ibarat ikan lauhan, semakin ‘nonong’ kepalanya maka semakin mahal pula haganya. Sama halnya dengan domba, semakin berat tubuhnya maka semakin mahal pula harga jualnya. Tapi bagaimana dengan manusia. Dimata Allah manusia tidak dinilai dari fisiknya. Ada sebuah hadits yang kurang lebih artinya:
“Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah. Manakala baik segumpal darah itu maka baiklah seluruh tubuhnya. Manakala rusak segumpal darah itu maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati”.

muhasabah ini mengingatkan saya akan pencarian kebenaran tentang hidup, makasih pak diingatkan kembali