Suatu ketika Nashrudin sedang berjalan. Tiba-tiba kakinya terantuk sebuah benda. Dipungutnya benda itu. Ternyata sebuah cermin kecil yang tertutup debu tebal. “Lumayan, akan kugantung di dinding dekat tempat tidur”, gumamnya lirih. Dengan ujung baju, diusapnya debu yang menyeliputi permukaan cermin. Cermin kembali berkilat. Sontak Nashrudi terkejut setengah mati. Matanya terbelalak. Ia melihat sosok mengerikan di dalam cemin. Wajah dengan kulit keriput, ditingkahi bulu-bulu kasar hitam putih tak merata, janggut yang kusut masai dan mata merah melotot. Praaang! Cermin dicampakkan. “Pantas saja engkau dibuang pemilikmu!”, hardik Nashrudin. Rupanya, Nashrudin tidak siap melihat wajahnya sendiri.
Kawan, anekdot diatas yang diambil dari kumpulan anekdot sufi ini menarik untuk direnungkan. Cermin adalah alat yang jujur. Ia memperlihatkan obyek yang ada dihadapannya apa adanya. Bahkan, bila pencahayaan demikian terangnya, cermin akan menghasilkan pantulan obyek yang lebih cemerlang dibandingkan aslinya. Itulah kehebatan cermin.
Kawan, selau bersihkan hati kita, agar cahaya mudah masuk ke dalamya. Usaplah debunya agar dapat memantulkan cahaya dengan terang. Jernihkan permukaannya agar dapat bercerita jujur kepada kita. Mungkin kita tidak dapat mencegah datangnya debu ke permukaan cermin. Tetapi janganlah lelah untuk selalu membersihkannya.
Ibarat ikan lauhan, semakin ‘nonong’ kepalanya maka semakin mahal pula haganya. Sama halnya dengan domba, semakin berat tubuhnya maka semakin mahal pula harga jualnya. Tapi bagaimana dengan manusia. Dimata Allah manusia tidak dinilai dari fisiknya. Ada sebuah hadits yang kurang lebih artinya:
“Ketahuilah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal darah. Manakala baik segumpal darah itu maka baiklah seluruh tubuhnya. Manakala rusak segumpal darah itu maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal darah itu adalah hati”.
Ditulis dalam Memancing Kebaikan | 1 Komentar »
Sedah hampir dua pekan aku bareng temen-temen PKPU melakukan kegiatan sosial bertajuk Pengobatan Gratis Telkomsel untuk korban banjir. Kegiatan ini memang digawangi oleh Telkomsel. Pada musim banjir kali ini terdapat 10 titik yang menjadi fokus garapan yang tersebar di Semarang, Solo dan Kendal.
Rabu (18/2) merupakan putaran terakhir dan jatuh di kota solo, tepatnya di kelurahan Joyosuran. Sejak tim kesehatan PKPU datang ke lokasi sudah ditunggu banyak pasien yang menganunggu untuk segera mendapat pengobatan. Setelah acara dibuka, mereka dengan antusias mendaftardan menunggu dipanggil panitia. Hingga acara selesai tak kurang 112 pasien dilayani oleh tim medis.
Sepulang dari solo, aku menuju Semarang. Baru saja sampai Karangjati, aku dikabari kalo anak dari salah satu teman di kantor meninggal karena kecelakaan. Beletak!!. Akupun menuju ke rumah duka, yang kemudian dilanjutkan pengantaran jenazah ke Magelang. Setelah upacara pemakaman berakhir aku langsung meluncur ke semarang lagi. pukul 02.30 aku sampai Semarang. Ugh, letiiih! Aku bergegas tidur karena esoknya harus bekerja kembali.
Yah, begitulah. Sehari semalem aku SMS, Solo-Magelang-Semarang.
Ditulis dalam Aktifitas | Tinggalkan sebuah Komentar »

- Hachi-hachilah kalo DS
Mungkin bagi sebagian blogger sangat familiar dengan istilah itu. Maklum, saat ini memang sedang rame-ramenya ‘DS’. Tidak hanya produk konsumtif yang bisa dijual, produk kebaikan pun bisa dijual.
Critanya, sudah dua bulan terakhir ini, volume direct selling meningkat. hampir setiap minggu aku memimpin pasukan DS yang super semangat dan ekstra hebat. Rumah-demi rumah di ketuk dan diajaklah bicara si penghuni rumah untuk mendapat informasi produk kebaikan dari kami. Dari pusat keramaian, perumahan hingga pelosok kampung tak luput dari serangan Pasukan DS. Dari ujung pasar hingga ujung gang kami sambangi. Panas dan gerimis mewarnai acara DS. Hujan pun sudah biasa.
Aku jadi terkesan dengan seorang kawan. Setelah acara DS selesai di evaluasi, kawanku ini mau pulang. Tapi sayang seribu sayang mendung tebal menyelimuti langit, hingga tampak hitam. Tapi kawanku itu tetap menerobos pulang. akupun hanya bisa membawakan untuknya sepadang mantel. Mudah-mudahan tidak jadi hujan!
Mungkin program itu yang bisa aku lakukan, mudah-mudahan mendapatkan kemenagan.
Ditulis dalam Memancing Kebaikan | 2 Komentar »

kenangan di kyai langgeng
Bombastis banget sih! Enggak, aku cuma mau nulis catatan keci saja. Yah, saat-saat terakhir aku sendiri (chieee kaya’ apa aja). Di akhir tahun 2007 temen2 sekantor ngadain acara Family Gathering. Kali ini dilaksanakan di Taman Kyai Langgeng Magelang. Selain untuk saling mengakrabkan antara keluarga, acara ini juga sebagai ajang refreshing.
Tentu temen2 yang sudah berkeluarga membawa serta keluarganya. Nah, nasib bener aku yang saat itu masih single (juga beberapa temen sekantor). Masa’ acara Family Gathering kok nggak sama familynya, nggak seru kan?. Padahal sehari sebelum acara itu, aku baru dari Magelang dan mengajak Ortuku ke Semarang. Nah, ketimbang aku sendirian dan jadi bahan ejekan, ya udah, aku ajak juga ortuku untuk FG. Itung-itung sambil nganterin pulang (Setelah acara itu, aku mengantar pulang ke rumah, yang tak terlalu jauh dari Kyai Langgeng).
Ternyata saat itu adalah saat2 terakhir aku sendiri. Karena ternyata setengah bulan kemudian aku menikah di Semarang. Tapi ngomong ngomong, kapan ya ada acara Family Gathering lagi ya?
Ditulis dalam keluarga | 1 Komentar »

Senyum Zidan
Ada yang menarik, seorang kawan ngasih coment di salah satu foto yang aku upload di facebook. Folder yang memuat beberapa foto My little baby. Dia bilang ” Selamat begadang, ya!”. Maksudnya, kalo lagi punya baby kecil kan biasa tuh begadang. Itu pula yang aku bayangin menjelang kelahiran tiba. Bagi temen2 temen yang punya baby kecil, mungkin pernah ngalami yang serupa.
Tapi, ternyata nggak segitunya. Memang sih sesekali bangun, karena ngganti popok saat ngompol (duh baiknya, padahal tentunya uminya yang sueriing ngggantiin popoknya), tapi nggak sampai begadang. Apa pasal?. Baby-ku itu kalo siang memang nggak mau tudur, lebih sering minum ASI. Tapi, begitu adzan Maghrib, langsung deh, merem!. Sampe-sampe’ doa sebelum tidurnya telat, sudah kadung pulas. Sepanjang malam, sesekali bangun tapi jarang rewel. Baru setelah subuh menjelang, baby-ku bangun untuk seharian sampai maghrib lagi.
Jadi, meski aku tidur sama bayiku, praktis nggak pernah begadang!. Ya, dihatiku hanya penuh syukur aja, soalnya kalo sudah seharian beraktifitas, malamnya tinggal capek, dan tidur deh! Alhamdulillah bayiku mempunyai ritme yang sama.
Kalo boleh ngutip salah satu iklan kartu seluler,- “Zidan, baik yah!”. Terima kasih Zidan, mudah-mudahan diberikan perlindungan dan bimbingan dari Allah SWT. Amin.
(Tulisan ini aku tulis tepat 2 bulan setelah kelahiran Zidan)
Ditulis dalam keluarga | 3 Komentar »
Ini dia dua keponakanku, Hilma dan Aza namanya. Lucu kan? Hilma memang suka akting, pose, usil kadang nakal dan macem2 lah. Namanya juga anak kecil. Tak beda jauh dari kakanya, Aza memang untreg alias super usil. Lanjut Baca »
Ditulis dalam keluarga | 1 Komentar »

Bakso Anak Jalanan
Jaman saiki (jare) pancen jaman susah. Yen ora ngedan ora keduman. Yen ora njaluk ora kebagian. Jaman susah ngono ora mbiyen ora saiki, podho wae! Wong mbiyen crita yen jamane dheweke urip ngalami jaman rekasa, paceklik, ‘jaman tikusan’. Yen wong saiki crita, wah saiki jamane krisis, rego-rego podho mundhak. Arep adol ora duwe sing di dol, arep tuku ora duwe sing gawe tuku! Lanjut Baca »
Ditulis dalam keluarga, Pitutur | Tinggalkan sebuah Komentar »

Zidan
Maaf ya, buat temen2 blogger. Lama aku nggak posting. Mungkin lagi sibuk atau males kali ya. Membuka posting kali ini aku ada kabar kecil nih.
Alhamdulillah awal Desember kemarin putra pertama kami lahir dengan normal dan selamat. Lanjut Baca »
Ditulis dalam keluarga | 4 Komentar »
